LEADERSHIP ( KEPEMIMPINAN )
Pokok Bahasan :
1. Teori munculnya pemimpin di masyarakat
2. Tipologi kepemimpinan
3. Pola kepemimpinan efektif
Tujuan :
1. Peserta memahami teori munculnya pemimpin di masyarakat
2. Perserta memahami karakteristik, sosok dan citra diri seorang pemimpin
3. Peserta memahami bagaimana peran dan tanggung jawab seorang pemimpin sebagai bentuk kepemimpinan yang efektif
Pengertian
Kepemimpinan merupakan masalah yang sangat penting dalam menejemen. Bahkan ada yang menilai bahwa kepemimpinan adalah jantungnya intinya menejemen. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk dapat menggerakkan dan membina orang atau kelompok orang – orang, sehngga mau berbuat / berkarya secara efektif dan efesien dalam rangka mencapai tujuan administrasi.
Leadership dan manajemen bisa sama dan bisa berbeda. Dapat dikatakan bahwa semua leader adalah manajer, tetapi tidak semua manajer menjadi leader. Manajer biasanya menggunakan kekuasaan yang melekat pada jabatannya atau organisasinya untuk memipin orang. Sedangkan seorang leader biasanya mempengaruhi orang lain dengan gaya dan keahliannya memimpin tanpa mengendalikan kekuasaan. Adapaun konsepsi mengenai kepemimpinan harus selalu dikaitkan dengan tiga hal penting, yaitu :
1. Kekuasaan
2. Kewibawaan
3. Kemampuan
A. TEORI MUNCULNYA PEMIMPIN DIMASYARAKAT
Tiga teori munculnya pemimpin adalah :
a. Teori genetis
b. Teori sosial
c. Teori ekologi
1. Teori genetis
a. Pemimpin tidak dibuat, akan tetapi dilahirkan menjadi pemimpin karena dari bakatnya sejak lahir.
b. Ditekdirkan lahir menjadi pemimpin, dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga.
2. Teori sosial yaitu : lawan dari teori genetis bahwa pemimpin itu harus disiapkan dan dibentuk, tidak terlahir saja dan semua orang bisa menjadi pemimpin melalui usaha dan penyiapan pendidikan
3. Teori ekologi : ( teori ini reaksi dari kedua teori tersebut diatas ) yaitu seorang akan sukses menjadi pemimpin, bila sejak lahirnya dia telah memilki bakat – bakat kepemimpinan, dan bakat – bakat ini sangat
C. TYPE –TYPE KEPEMIMIPINAN.
Pemimpin itu mempunyai sifat , temperemen , watak dan keperibadian sendiri yangunuik, khas, sehingga tinkah laku dan gayanya sendiri yangmembedakan dirinya dengan orang lain. Gayadan type hidupnya ini pasti akan mewarnai prilaku dan type kepemimpinannya. Sehingga muncullah beberapa type kepemimpinan sebagai berikut:
1. Type kharismatik : Type pemimpin kharismatik tidak menghendaki dayatarik dan wibawa yang luar biasa, saehingga mempunyai pengkut yang jumblahnya sanat besar . Dia dianggapnya mempuanyai kekuatan ghaib yangdiperolehnya dari kekuatan yang maha esa.
2. Type paternalistis : (type kepemimpinan yang kebapakan ) dengan sifat-siatnya antara lain : a. Menganggap bawahanya sebagai manusia yang belum dewasa . b. bersikap terlalu melindungi .c. selalu bersikap mahu tahu dan maha benar.
3. Type militeristik : type mempuyai sifat-sifat antara lain: a. lebih banyak menggunakan sistem perintah terhadap bawahannya . b. Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya c. tidak menghendaki saran – saran dan kritik dari bawahannya. d. komunikasi hanya berlangsung searah saja.
4. Type otokratis : Kepemimpinan otokrat mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang selalu harus dipatuhi. Pemimpin selalu mau berperan sebagai " pemain tunggal " .
5. Type laisser faire : Type pemimpin type laisser faire praktis tidak memimpin, sebab dia memberikan kelompoknya berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi dalam kelompoknya. Semua pekerjaan harus dilakukan oleh bawahannya. Dia merupakan pemimpin simbol, dan biasanya tidak memilki ketrampilan teknis.
6. Type demokratis : kepemimpinan demokratis memberikan bimbingan efisien kepada para pengikutnya, terdapat koordinasi pekerjaan dari semua bawahan dengan penekanan rasa tanggung jawab internal dan bekerja sama yang baik. Pemimpin demokratis menghargai setiap potensi individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan, bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing – masing, dan mampu memanfaatkan setiap anggota dengan selektif mungkin pada saat kondisi yang tepat.
D. FUNGSI PEMIMPIN
Menurut rustam Effendi ( 1995 : 245 ) fungsi pemimpin secara umum dapat meliputi :
1. Menuntut
2. Membimbing
3. Memberi atau membangunkan motivasi – motivasi kerja
4. Mengemudikan organisasi
5. Menjalin jaringan – jaringan komunikasi yang baik
6. Supervisi yang efisien, dan
7. Membawa para pengikutnya kepada sasarannya yang dituju dengan ketentuan waktu dan perencanaan.
Adapun fungsi pokok pemimpin adalah :
1. Fungsi perencanaan
2. Fungsi memandang kedepan
3. Fungsi pengawasan
4. Fungsi mengambil keputusan
5. Fungsi memberi hadiah
E. SYARAT – SYARAT PEMIMPIN
Adapun syarat – syarat pemimpin adalah sebagai berikut :
1. Taqwa
2. Sehat
3. Cakap dan cerdik
4. Setia pada tugas
5. Disiplin
6. Adil dan bijaksana
7. Berkemauan keras
8. Berani dan tegas mengambil tindakan
9. Percaya diri
10. Inovativ dan kreatif
11. Berwawasan luas kedepan
12. Penuh tanggung jawab
13. Ucapan sama dengan tindakan
14. Mengutamakan kepentingan orang lain
15. Ambisi dan orientasi pada pencapaian hasil
F. SIFAT KETELADAN KEPEMIMPINAN ROSULULLAH SAW.
Michael Hart dalam bukunya 100 tokoh dunia ( 1994 ) yang paling dihormati menempatkan Muhammad SAW sebagai pemimpin urutan pertama, mengapa ? alasan pokoknya adalah tidak ada pemimpin sekaliber Muhammad SAW dimana pengikutnya begitu cepat bertambah, dan begitu fanatik terhadapnya kendatipun mereka tidak pernah menemuinya bahkan semakin lama semakin disanjung – sanjung ajarannya.
Sifat – sifat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sudah banyak disanjung bahkan Allah berfirman dalam Al – Qur'an 33 : 21 yang artinya : Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri tauladan yangbaik bagimu yaitu bagi orang – orang yang mengharapkan rahmat Allah di hari kiamat dan di banyak menyebut nama Allah.
Nabi Muhammad SAW hidup bukan untuk dirinya, beliau berasal dari keluarga miskin tanpa unsur warisan harta dan kekuasaan, beliau mandiri, jujur, penyabar, adil, mempunyai visi kedepan, berwawasan jangka panjang, tegas, dipercaya dan menyayangi bawahannya.
G. UPAYA PENINGKATAN KUALITAS KEPEMIMPINAN
Menjadi seorang pemimpin yang sukses dan berkualitas diperlukan beberapa faktor yang dapat menunjang antara lain :
1. Sehat jasmani dan rohani
2. Selalu berusaha beramal dan berakhlaqul karimah
3. Selalu berusaha meningkatkan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu
4. Selalu berusaha menambah pengalaman dan latihan kepemimpinan
LEADERSHIP
13.57
.
Posted in
Leadership
MENEJEMEN ORGANISASI
13.32
.
MENEJEMEN ORGANISASI
Pokok Bahasan :
1. Pengertian, fungsi dan manfaaat manajemen
2. Manajemen organisasi non profit
Tujuan :
1. Mengerti dan memahami fungsi, manfaat dan bentuk – bentuk manajemen
2. Mengetahui bagaimana memilih dan menerapkan manajemen yang tepat.
Pendalaman Materi
Bila dipelajari dari literatur manajemen, maka akan jelas bahwa isitilah manajemen mengandung tiga pengertian, pertama : Manajemen sebagai proses kedua : Manajemen sebagai kolektifitas orang yang melakukan manajemen dan ketiga : Manajemen sebagai suatu seni ( ART ) dan sebagai ilmu.
Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan dari pada sumber daya, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
FUNGSI – FUNGSI DASAR MANAJEMEN
1. Planning ( Perencanaan )
Adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya ada yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa.
Tipe – tipe planning :
a. Rencana strategi ( strategic planning )
Proses pemilihan tujuan – tujuan organisasi, penentuan strategi, kebijakasanaan dan program – program strategis yang diperlukan untuk tujuan yang sudah ditetapkan.
b. Rencana operasional ( operasional planning )
Rencana operasional ini dibagi menjadi dua :
Rencana operasional sekali pakai : Adalah rencana untuk mencapai tujuan organiasi tertentu yang tidak dapat berulang dalam bentuk yang sama di waktu mendatang.
Rencana operasional tetap : Adalah rencana yang berupa kebijaksanaan, prosedur dan aturan yang ditetapkan dan akan terus ditetapkan sampai perlu diadakan perubahan ataupun dihapus.
Tahap – tahap planning :
a. Menentukan tujuan atau serangkaian tujuan
b. Merumuskan keadaan / kondisi saat ini
c. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan
d. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan
Syarat – syarat planning :
a. Tujuan dirumuskan dengan jelas
b. Sederhana / simple tetapi tidak remeh, tidak terlalu tinggi tetapi rasional, mudah dipahami dan dilaksanakan.
c. Sifatnya fleksibel ( dapat menyesuaikan )
d. Ada keseimbangan planning ke luar dan kedalam
e. Membuat analisa dan pengelompokan kegiatan yang direncanakan
Manfaat Planning :
a. Tujuan dapat sesuai dan jelas
b. Merupakan guide ( petunjuk ) bagi anggota
c. Merupakan control/alat pengendali pelaksanaan kerja organisasi
d. Menjamin sumber – sumber secara efektif dan efisien
e. Memudahkan koordinasi
2. Organizing ( Pengorganisasian )
Adalah proses pengelompokan orang – orang, alat – alat, tugas dan tanggung jawab atau wewenang sedemikian rupa sedemikian rupa sehingga tercipta satu kesatuan kerja yang utuh dalam rangka mencapai tujuan.
Proses Organizing :
a. Perumusan tujuan harus jelas dan lengkap, baik bidang, ruang lingkup, sasaran keahlian, serta peralan yang diperlukan sehingga diketahui besar kecilnya organisasi.
b. Penetapan tugas pokok, yaitu sasaran yang dibebankan pada organisasi untuk dicapai.
c. Perincian kegiatan / membuat skala prioritas.
d. Pengelompokan kegiatan
e. Departementasi yaitu proses penobatan fungsi – fungsi menjadi kesatuan kerja, misalnya : biro, bagian, dll.
f. Penetapan otoritas / wewenagn / kekuasaan.
g. Staffing / rekrutmen / penarikan anggota.
3. Actuating ( penggerakan )
Adalah tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota / orang mau melaksanakan dan berusaha untuk mencapai tujuan sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
4. Controlling ( pengawasan )
Adalah tindakan yang mengusahakan agar setiap kegiatan yang dilakukan tidak menyimpang dari rencana yang sudah ditetapkan.
Tehnik pengawasan :
a. Pengawasan preventif/steering control yaitu pengawasan yang bersifat pencegahan dari kemungkinan penyimpangan kegiatan yang dilakukan.
b. Pengawasan pantangan / yes no control yaitu pengawasan yang berupa ketentuan tentang hal yang boleh dilakukan dan hal yang tidak boleh dilakukan.
c. Pengawasan remedial / post action control yaitu pengawasan yang bersifat pengobatan terhadap terjadinya hal – hal yang menyimpang dari perencanaan.
Posted in
Menejemen Organisasi
Struktur Organisasi IPNU Kencong
18.18
.
PC. IPNU KENCONG
MASA KHIDMAT 2010 – 2012
Ketua : Agus Nur Yasin
Ketua I : Faruq Hasyim
Ketua II : Mohammad Syakhirin Anasir
Ketua III : Ahmad Zunaidi
Sekretaris Umum : Eko Yudianto
Sekretris I : Fahrur Rozi
Sekretris II : Khoirul Wafa
Bendahara : M. Munawir
Wk. Bendahara : M. Nadzir Adnan
1. Amin Thohari
2. Misro’i Hamid
3. Imam Muhtarom
4. M. Nahrowi
2. M. Sholehudin
3. Rizqi Yuliansyah
4. Ilzam Zawawi
2. Hisyam Arwani
3. M. Faiq Faizin
4. Abdul Azim
5. Abdul Muhit
Departemen Minat & Bakat
1. Zainul Ulum
2. Abu Mansyur
3. M. Rizalus Sholihin
4. Nur Wachid
5. Syaiful Anam
1. Nuddin Lubis
2. Dodik Irawanto
3. Syamsul Arifin
4. Yahya Mahmudika
5. Agus Supriyanto
Lembaga Corp Brigade Pembangunan
1. Achmad Qoyyum
2. Abdul Wasis
3. Syamsul Huda
4. Dede Jhoni
5. Badrud Tamam
6. Rudi Ardian Nur Arifin
Badan Student Crisis Center
1. Miftahul Hadi
2. Imam Hambali
3. Iwan Hafriyanto
4. Dodik Ardiansyah
5. Nur Arifin
Posted in
Struktur Organisasi IPNU
Materi Pengkaderan IPNU-IPPNU
17.46
.
1. Sejarah kelahiran NU dan perkembangannya
2. Sejarah berdirinya NU lokal
3. Bentuk dan sistem organisasi NU ( tujuan, struktur organisasi dan perangkat organisasi )
4. Pengertian dan kedudukan ulama dalam NU
5. Faktor – faktor dominan NU yaitu faktor kepemimpinan dan keanggotaan NU serta faktor keagamaan NU
Tujuan :
1. Memahami sejarah dan perkembangan baik nasional maupun lokal
2. Memahami bentuk dan sistem organisasi NU
3. Memahami kedudukan Ulama dalam NU
4. Memahamai faktor dominan NU baik faktor kepemimpinan, keanggotaan serta faktor keagamaan
Sejarah NU
Sesungguhnya pendorong berdirinya NU oleh para ulama dan kaum pesantren adalah semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya kerjasama yang lebih teratur antara mereka didalam memperjuangkan izzul islam wal mukminin dalam bingkai ahlusunah waljamaah.
Dorongan kerjasama ini dipicu oleh peristiwa “Konperensi Khilafah” yang diadakan oleh permeritah Saudi Arabia, sebab setelah selesai perang dunia ke- 2 dan Kesultanan Turki diakui sebagai khilafah islamiyah jatuh karena revolusi yang dipimpina oleh Kamal Atatruk rupanya Pemerintah Saudi Arabia berambisi untuk memangku “Khilafah Turki” tersebut. Maka dirancanglah Konperensi International Khilafah Islamiyah di Mekkah dan diundanglah perwakilan – perwakilan Negara-negara islam, termasuk Indonesia. Di Indinesia sudah terbentuk sebuah Komite (panitia) untuk mengirim utusan kesana, termasuk KH. Wahab Hasbullah sebagai perwakilan Ulama serta beberapa tokoh-tokoh lain yang mewakili organisasi besar Islam Indonesia.
Dengan alasan yang kurang maton susunan Anggota Komite berubah, KH. Wahab Hasbullah tidak jadi masuk menjadi anggota delegasi, karena tidak “mewakili organisasi” apapun, secara tidak langsung ini sebuah penghinaan terhadap ulama pesantren yang sesungguhnya besar pengaruhnya dan posisinya terhadap umat Islam di Indonesia.
Karena kemungkinan bergabung dengan delegasi umat Islam Indonesia sudah tertutup, maka para Ulama berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mengirim delegasi Ulama Ahlu sunnah wal jamaah Indonesia menghadap Pemerintah Saudi Arabia. Untuk keperluan itu maka dibentuklah “Komite Hijaz” sebuah panitia untuk memobilisasi kekuatan dan dukungan umat bagi terlaksananya kerja besar ini.
Segala kebutuhan dapat disapkan meskipun dalam keadaan pas-pasan. Delegasinya hanya KH. Wahab Hasbullah sendiri, seorang penasehat dari Mesir yaitu Syekh Ghonaim (untuk memperbesar wibawa delegasi)sekretarisnya diambilkan dari mahsantri Indonesia yang ada di Arab Saudi, yaitu KH. Dachlan dari Nganjuk (untuk menhemat dana) ketika delegasi akan berangkat, berbisik pikiran untuk “mempermanenkan” KOmite Hijaz itu untuk menjadi organisasi yang tetap, yaitu Nahdlatul Ulama.
Jamiyah Nahdlatul Ulama didirikan di surabya pada tanggal 6 rojab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M, dengan pendirinya anatar lain : KH. Hasyim As’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Samsuri, KH. Ridwan Abdullah, KH. Mas Alwi Abdul Azizi dan lain – lain.
Tujuan, Struktur dan Perangkat Nahdlatul Ulama
Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran islam menurut Faham Ahlu sunah wal jamaah dan menganut salah satu madzhabempat, ditengah-tengah kehidupan masyarakat didalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia (AD NU Bab IV pasal 5).
Struktur organisasi Nahdlatul Ulama adalah :
Pengurus Besar di Jakarta
Pengurus Wilayah Di Provinsi
Pengurus Cabang di Kota/Kabupaten
Pengurus Majlis Wakil Cabang di Kecamatan
Pengurus Ranting di Desa atau Kabupaten
Perangkat organisasi Nahdlatul Ulama :
• Lembaga adalah perangkat departemenisasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama, khususnya yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu.
• Lajnah adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan program Nahdlatul Ulama menangani penanganan khusus
• Badan Otonom adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang befungsi membantu malaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama khususnya yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu yang beranggotakan perseorangan.
Posisi dan Fungsi Ulama dalam NU
Sebagaimana pada alinia 2 butir mukoddimah Khittoh NU di sebutkan : Nahdlatul Ulama sebagai jamiyah Diniyah adalah wadah bagi ulama dan pengiakut-pengikutnya yang didirikan pada 16 rojab 1344 H/31 Januari 1926 M, dengan tujuan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran islam berhaluan ahlusunnah wal jamaah dan menganut salahsatu madzhab empat masing-masing : Imam Abu Hanifah An Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’I, dan Imam Ahmad Bin Hmabal, serta untuk mempersatukan langkahpara ulama dan pengikutnya dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk kemaslakhatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia.
Dasar – dasar faham keagamaan NU
• Sumber – sumber ajaran Islam diambil dari :
1. Al – Qur’an
2. Al – Hadist
3. Al Ijma’
4. Al Qiyas
• Menggunakan system bermadzhab :
a. Aqidah : Aswajah sebagaimana dipelopori oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi
b. Fiqh : salah madzhab empat : Hanafi, maliki, Syafi’I dan Hambali
c. Tashawwuf : Imam Junaid Al Bagdadi, Imam Ghozali dan lain – lain
Ahlussunnah Wal Jama’ah
Pokok bahasan :
1. Pengertian dan dalil yang menjadi rujukan aswaja
2. Prinsip – prinsip sikap islam aswaja ( yaitu tawasuth, tawazun, I'tidal dan amar ma'ruf nahi munkar )
3. Sejarah kelahiran aswaja dan perkembangannya di Indonesia
4. Memahami peran ulama dalam perkembangan Islam di Indonesia
Tujuan :
1. Memahami dalil – dalil yang menjadi rujukan dalam aswaja
2. Memahami prinsip – prinsip sikap Islam aswaja dan sejarah kelahiran serta perkembangan aswaja di
3. Memahami peran ulama' dalam perkembangan Islam di Indonesia
A. Pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah
Kalimat ahlusunnah wal jamaah berasal adari bahasa Arab yang terdiri dari 3 kata yaitu :
- Ahlun artinya : golongan, keluarga, kelompok
- Assunah artinya sesuatu yang berasal dari Rosululloh baik berupa perkataan (qoulunnabi), perbuatan (fi’lunnabi), Ketetapan Nabi (taqrirunnabi)
- Aljama’ah artinya jamatus shohabah, Khullafaur Rosyidin, Assawadul ‘adhom (golongan mayoritas islam).
Jadi pengertian Ahlusunnah wal jamaah ialah golongan pengikut setia ajaran islam yang murni sebagaimana diajarkan dan diamalkan oleh Rosulloh beserta para shahabatnya.
B. Asal Mula Istilah Ahlussunnah wal Jama’ah
Istilah Ahlu Sunah Wal Jama’ah dengan pengertian diatas berasal dari Hadist Rosululloh SAW yang diriwayatkan oleh imam Tabrani sebagai berikut :
Artinya : “telah terpecah belah umat Yahudi atas 71 golongan dan telah terpecah belah umat Nasrani atas 72 golongan dan akan terpecah belah umatku menjadi 73 golongan, yang selamat diantara mereka hanya satu, sedangkan sisanya binasa”. Sahabat bertanya : “siapakah yang yang selamat itu ?” Nabi menjawab ?: “Ahlu Sunnah Wal Jama’ah” sahabat bertanya lagi : Apakah ahlu sunah waljamaah itu?” Nabi menjawab: “apa yang aku perbuat hari ini dan para shabatku”.
C. Latar Belakang Kelahiran Ahlussunnah wal Jama’ah
Pada jaman rosullullah tidak pernah terjadi perbedaan pendapat dikalangan umat islam karena semua masalah dapat ditanyakan pada Nabi dan langsung mendapat jawaban dari Nabi, jaman khulafaurrosyidin (11 H – 14 H) mulai timbul sedikit perbedaan pendapat yang pada umumnya menyangkut masalah hukum rumah tangga seperti perkawinan, perceraian dan masalah waris.
Perpecahan dikalangan ummat Islam mulai timbul pada akhir Pemerintah Usman bin Affan karena termakan propaganda Abdullah bin
Pada tahun 37 H terjadilah perang shiffin antara Ali dan Muawiyah yang diakhir dengan majlis tahkim. Kelompok Ali yang tidak setuju dengan majlis tahkim memisahkan diri dari Ali dan mendirikan golongan khowarij, mereka memandang bahwa pelaku majlis tahkim hukumnya kafir.
Selain itu muncul golongan Murjiah dipimpin Hasan bin Hilal al Muzni yang berfatwa bahwa perbuatan maksiat tidak mengandung mudhorot apabila sudah beriman.
Pada awal abad ke- 11 muncul golongan Mu’tazillah dipimpin oleh Washil bin Atho’ yang menempatkan akal diatas segala – galanya melebihi Al – qur’an dan Hadist, mereka tidak mempercayai adanya peristiwa mi;roj, siksa kubur, dll karena dianggap tidak masuk akal.
Beberapa firqoh sebagaimana contoh tersebut adalah tumbuh dan berkembang sebenarnya karena persoalan politik. Pada saat – saat demikian itulah, maka ajaran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang pada hakekatnya ajaran yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para shabatnya dipopulerkan kembali dan disistimatikan oleh Imam Abu Hasan al Asy’ary (873 – 935 M) dan Imam Abu Mansur al Maturidy dalam bidang Aqidah, oleh Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam syafi’I dan Imam Hambali, dalam bidang syari’ah oleh Imam Junaid al Bagdadi dan Imam Al Ghozali dalam bidang Akhlaq/tasawwuf
D. Sejarah kelahiran Ahlussunnah wal Jama’ah dan perkembangannya di
Tentang aswaja di Indonesia menggambarkan sesuatu yang kompleks dan rumit. Karena Aswaja sendiri sebagai nilai yang dianggap sebagaian besar kalangan muslim adalah representasi yang sah dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi memilki sejarah yang demikian panjang dan komplek, selain itu watak kultur masyarakat yang membentuk Aswaja memiliki perbedaan yang mencolok dengan watak dasar kultur Indonesia.
Lalu kapan Islam masuk ke Indonesia?, masih banyak pertanyaan besar bagi para sejarahwan. Namun mayoritas mereka menyimpulkan bahwa islam masuk ke Indonesia setelah abad 14 M. Islam masuk diinonesia melalui gerakan kultural perdagangan yang dilakukan oleh muslimin dari daerah wilayah Islam India. Dengan demikian proses Islamisasi di Idonesia bersifat gradual dan bukan drastis dan serempak
Intinya perjalanan umum dan singkat Aswaja, dapat disimpulkan bahwa Aswaja dalam skala makro – sebagai ajaran – bukan hanya berkisar pada tataran ideologi skolastik tapi sebenarnya dalam cakupan yang lebih umum dan menyeluruh ia adalah sebuah nilai ajaran yang berkarakterisitik.
Adalah suatu yang benar dan nyata bahwa Aswaja yang ada didataran Arab, dimana Aswaja mengalami pematangan – pematangan gagasan, tidak berbeda dengan aswaja yang ada dan perkembangan Aswaja di Indonesia secara esensial. Namum dalam tataran praktis kecenderungan Aswaja mengalami perbedaan – perbedaan yang sangat unik dan berbeda dengan aswaja dimanapun di dunia ini. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kultur, dan kecenderungan emosional (psikologis) para penganut aswaja antara timur tengah dan Indonesia.
E. Prinsip Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah
Jadi Ahl al – Sunnah wa al-Jama'ah adalah merupakan ajaran yang mengikuti sem,ua yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Sebagai pembeda dengan yang lain, ada ciri khas kelompok ini, yakni sikap yang selalu diajarkan oleh Rosulullah SAW dan para sahabatnya. Prinsip tersebut adalah :
1. At tawassuth ( sikap tengah – tengah, sedang-sdang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan yang diterapkan dalam berbagai bidang antara lain : aqidah, syariah, tasawwuf/akhlaq, musyawaroh/pergaulan antar golongan, kehidupan berbangsa/bernegara, kebudayaan, dakwah, dan bidang-bidang yang lain). Disarikan dari firman allah SWT yang artinya :
" Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian ( umat Islam) umat pertengahan ( adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi ( ukuran penilaian) atas ( sikap dan perbuatan ) manusia umumnya dan supaya Allah SWAT menjadi saksi ( ukuran penilaian) atas ( sikap dan perbuatan) kamu sekalian." (QS. Al-Baqarah,153)
2. Al – Tawazun ( seimbang dalam segala hal termasuk dalam penggunaan Dalil 'Aqli dan Dalil Naqli ). Firman Allah SWT yang artinya :
"sungguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama meraka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan" ( QS. Al-Hadid, 25)
3. Al-I'tidal ( tegak lurus ). Dalam al-Qur'an disebutkan yang artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuiat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." ( QS. Al-Maidah 9)
4. Amar ma'ruf nahi Munkar ( perintah perbuatan bagus dan mencegah perbuatan jelek ) dalam Al-Qur'an disebutkan yang artinya sebagai berikut :
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada perbuatan ma'ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar" ( QS. Ali Imron, 104 )
Posted in
Pengkaderan IPNU-IPPNU
Materi Ke NU-an
17.46
.
Pokok Bahasan :
1. Sejarah kelahiran NU dan perkembangannya
2. Sejarah berdirinya NU lokal
3. Bentuk dan sistem organisasi NU ( tujuan, struktur organisasi dan perangkat organisasi )
4. Pengertian dan kedudukan ulama dalam NU
5. Faktor – faktor dominan NU yaitu faktor kepemimpinan dan keanggotaan NU serta faktor keagamaan NU
Tujuan :
1. Memahami sejarah dan perkembangan baik nasional maupun lokal
2. Memahami bentuk dan sistem organisasi NU
3. Memahami kedudukan Ulama dalam NU
4. Memahamai faktor dominan NU baik faktor kepemimpinan, keanggotaan serta faktor keagamaan
Sejarah NU
Sesungguhnya pendorong berdirinya NU oleh para ulama dan kaum pesantren adalah semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya kerjasama yang lebih teratur antara mereka didalam memperjuangkan izzul islam wal mukminin dalam bingkai ahlusunah waljamaah.
Dorongan kerjasama ini dipicu oleh peristiwa “Konperensi Khilafah” yang diadakan oleh permeritah Saudi Arabia, sebab setelah selesai perang dunia ke- 2 dan Kesultanan Turki diakui sebagai khilafah islamiyah jatuh karena revolusi yang dipimpina oleh Kamal Atatruk rupanya Pemerintah Saudi Arabia berambisi untuk memangku “Khilafah Turki” tersebut. Maka dirancanglah Konperensi International Khilafah Islamiyah di Mekkah dan diundanglah perwakilan – perwakilan Negara-negara islam, termasuk Indonesia. Di Indinesia sudah terbentuk sebuah Komite (panitia) untuk mengirim utusan kesana, termasuk KH. Wahab Hasbullah sebagai perwakilan Ulama serta beberapa tokoh-tokoh lain yang mewakili organisasi besar Islam Indonesia.
Dengan alasan yang kurang maton susunan Anggota Komite berubah, KH. Wahab Hasbullah tidak jadi masuk menjadi anggota delegasi, karena tidak “mewakili organisasi” apapun, secara tidak langsung ini sebuah penghinaan terhadap ulama pesantren yang sesungguhnya besar pengaruhnya dan posisinya terhadap umat Islam di Indonesia.
Karena kemungkinan bergabung dengan delegasi umat Islam Indonesia sudah tertutup, maka para Ulama berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mengirim delegasi Ulama Ahlu sunnah wal jamaah Indonesia menghadap Pemerintah Saudi Arabia. Untuk keperluan itu maka dibentuklah “Komite Hijaz” sebuah panitia untuk memobilisasi kekuatan dan dukungan umat bagi terlaksananya kerja besar ini.
Segala kebutuhan dapat disapkan meskipun dalam keadaan pas-pasan. Delegasinya hanya KH. Wahab Hasbullah sendiri, seorang penasehat dari Mesir yaitu Syekh Ghonaim (untuk memperbesar wibawa delegasi)sekretarisnya diambilkan dari mahsantri Indonesia yang ada di Arab Saudi, yaitu KH. Dachlan dari Nganjuk (untuk menhemat dana) ketika delegasi akan berangkat, berbisik pikiran untuk “mempermanenkan” KOmite Hijaz itu untuk menjadi organisasi yang tetap, yaitu Nahdlatul Ulama.
Jamiyah Nahdlatul Ulama didirikan di surabya pada tanggal 6 rojab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M, dengan pendirinya anatar lain : KH. Hasyim As’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Samsuri, KH. Ridwan Abdullah, KH. Mas Alwi Abdul Azizi dan lain – lain.
Tujuan, Struktur dan Perangkat Nahdlatul Ulama
Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran islam menurut Faham Ahlu sunah wal jamaah dan menganut salah satu madzhabempat, ditengah-tengah kehidupan masyarakat didalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia (AD NU Bab IV pasal 5).
Struktur organisasi Nahdlatul Ulama adalah :
Pengurus Besar di Jakarta
Pengurus Wilayah Di Provinsi
Pengurus Cabang di Kota/Kabupaten
Pengurus Majlis Wakil Cabang di Kecamatan
Pengurus Ranting di Desa atau Kabupaten
Perangkat organisasi Nahdlatul Ulama :
• Lembaga adalah perangkat departemenisasi organisasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Nahdlatul Ulama, khususnya yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu.
• Lajnah adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan program Nahdlatul Ulama menangani penanganan khusus
• Badan Otonom adalah perangkat organisasi Nahdlatul Ulama yang befungsi membantu malaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama khususnya yang berkaitan dengan kelompok masyarakat tertentu yang beranggotakan perseorangan.
Posisi dan Fungsi Ulama dalam NU
Sebagaimana pada alinia 2 butir mukoddimah Khittoh NU di sebutkan : Nahdlatul Ulama sebagai jamiyah Diniyah adalah wadah bagi ulama dan pengiakut-pengikutnya yang didirikan pada 16 rojab 1344 H/31 Januari 1926 M, dengan tujuan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran islam berhaluan ahlusunnah wal jamaah dan menganut salahsatu madzhab empat masing-masing : Imam Abu Hanifah An Nu’man, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’I, dan Imam Ahmad Bin Hmabal, serta untuk mempersatukan langkahpara ulama dan pengikutnya dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk kemaslakhatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia.
Dasar – dasar faham keagamaan NU
• Sumber – sumber ajaran Islam diambil dari :
1. Al – Qur’an
2. Al – Hadist
3. Al Ijma’
4. Al Qiyas
• Menggunakan system bermadzhab :
a. Aqidah : Aswajah sebagaimana dipelopori oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi
b. Fiqh : salah madzhab empat : Hanafi, maliki, Syafi’I dan Hambali
c. Tashawwuf : Imam Junaid Al Bagdadi, Imam Ghozali dan lain – lain
Posted in
Ke NU-an